Dalam sebuah seminar, para peserta diberi lembar "evaluasi
narasumber". Dengan antusias, peserta mengungkap hal-hal positif
maupun negatif yang perlu ditingkatkan sang narasumber. Evaluasi
memang sangat bermanfaat jika dipandang sebagai "cermin" untuk
meningkatkan kualitas kinerja seseorang. Namun, pernahkah kita
mengevaluasi diri sendiri, untuk melihat berapa banyak kebenaran yang
sudah atau belum kita lakukan? Atau, kita lebih suka mengevaluasi
orang lain?
Yohanes Pembaptis dipakai Tuhan untuk menyerukan "... hasilkanlah
buah yang sesuai dengan pertobatan" (ayat 8). Sangat menarik bahwa
kalimat ini ia katakan di depan orang-orang Farisi dan Saduki yang
sudah mengenal hukum Taurat. Mereka datang kepada Yohanes untuk
dibaptis (ayat 7). Di situlah Yohanes mengingatkan mereka agar
berbuah, sesuai pertobatan mereka.
Seseorang yang mengaku telah bertobat, tidak boleh pasif atau tidak
berbuah. Justru pertobatan itu harus mendorongnya untuk senantiasa
menghasilkan buah pertobatan, yaitu perkataan dan perbuatan yang
mewartakan kasih Tuhan. Kita diminta senantiasa berbuah, apa pun
keadaan kita. Respons yang benar bukanlah menawar atau mengajukan
beribu alasan untuk tidak berbuah, melainkan taat untuk berbuah. Dan
di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat Dia jadikan berkat bagi
orang lain.
Maka, satu hal yang perlu kita lakukan: belajar berani mengevaluasi
diri. Tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah saya berbuah? Apakah yang
saya berikan hari ini adalah perkataan dan perbuatan yang meninggikan
nama Tuhan, atau diri sendiri? Kiranya kita didorong untuk melakukan
yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama
Life issues in Indonesia, technology, health information, interesting stories, and a mean to share
Thursday, July 16, 2009
Setia Dalam Kekosongan
"Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang." Inilah
sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang
untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan,
tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa
setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana
jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan
setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?
Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru
datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi,
boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan
berada-Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi
ada pernyataan bahwa Naomi "pergi dengan tangan penuh" (1:21). Akan
tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi
jatuh miskin "tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku". Di
sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan
Naomi dalam "kekosongannya".
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan
tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang
yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia
karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu,
jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau
suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar
kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita
setia.
sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang
untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan,
tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa
setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana
jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan
setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?
Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru
datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi,
boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan
berada-Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi
ada pernyataan bahwa Naomi "pergi dengan tangan penuh" (1:21). Akan
tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi
jatuh miskin "tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku". Di
sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan
Naomi dalam "kekosongannya".
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan
tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang
yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia
karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu,
jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau
suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar
kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita
setia.
Category:
Indonesian,
Owner's Reflection
Subscribe to:
Posts (Atom)