Saturday, July 4, 2009

Cerita Tentang Seorang Dermawan Rahasia


        Beberapa saat lalu saya menemukan sebuah cerita yang menurut saya sangat menarik dan menginspirasi.Berikut cerita tersebut, silakan dinikmati dan berikan komentar anda.
=========================================================================
oleh: Woody McKay Jr,

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan uang itu.
Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita
yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai

Wednesday, July 1, 2009

Legend of Batu Bagga

Long time ago in Sulawesi Island, lived a man named Intobu. He lived alone with his only son, named Impalak. They were poor. Everyday they work as fishermen. They went to the sea every night to catch fish, even in bad weather. Intobu always advised his son, “Being fishermen is our only income. Do not take the bad weather as our enemy.” Impalak nodded. “Yes, Father,” he replied.
Intobu and Impalak worked as fishermen for years. But, Impalak started to feel bored with the job. He wanted to try something new. He wanted to make a better living for his father and himself. One day, Impalak tried to talk to his father about his desire. “Father…, please forgives me,” Impalak felt hesitated. “What is it, my son?” Intobu was curious seeing his son’s strange attitude. “Father, actually I want to quit working as fisherman. I want to go abroad and try working something else,” explained Impalak.
Intobu was sad hearing his son’s decision, but he also wanted Impalak to be a successful person. “If that is your decision, I couldn’t do anything else but to allow you. I can only pray for your safety and success” said Intobu. “But I want you to always remember your homeland. Always remember your father,” he continued. “Yes, Father. I will remember. Thank you,” said Impalak happily.
In the next day, Impalak went to the harbor. He saw a bagga (sailboat) and went to see the owner. “Excuse me, Sir. I’m wondering if I can sail with you?” asked Impalak. The bagga’s owner was silent for a moment.

The Story of The Mouse Deer and The Tiger

One upon a time, there was a mouse deer living in a forest. Although he was small, he wasn’t afraid of the other bigger animals who wanted to eat him. He was so smart; he always managed to ditch them. One day, a tiger was wandering around for food. He hadn't been eating for days. He was really hungry. While he was walking in the forest, he saw Mouse Deer. The tiger wanted to eat him.
Tiger slowly ducked, crawled, approaching Mouse Deer, then..."Gotcha!" said Tiger. He caught Mouse Deer. “Hello, Mouse Deer! I’m really hungry right now. You’ll be my lunch!” said Tiger. Mouse Deer didn’t want to be his lunch. He tried to be calm. He looked around and saw some buffalo’s dung. He had an idea. “I’m sorry, Tiger. I can’t be your lunch now. The King has ordered me to guard his cake,” said Mouse Deer calmly. “His cake?” said Tiger curiously. “Yes, there it is. It’s very delicious. The King doesn’t want anyone else to eat it, so he ordered me to guard it,” Mouse Deer pointed the buffalo’s dung. “Can I taste it?” Tiger asked. “Of course you can’t. The King would be very angry,” said Mouse Deer refused. “Just one little bite, Mouse Deer! The King will never know,” said Tiger. “Well, okay, Tiger. But first let me run far away, so the King won’t blame me,” said Mouse Deer. “All right, Mouse deer. You can go now.” Mouse Deer ran quickly out of sight. Tiger then took a big mouthful of the ‘cake’. “Phoooey!” He spit it out. “Yuck, that’s not cake. That’s buffalo’s dung.”
Tiger ran through the forest. He caught up with Mouse Deer. “Mouse Deer, you tricked me. But now you will

Motivation for today.

Today things were just going as usual, plain, you might think that way. Woke up, ironed my working suit, took a shower, rode my bike to my working place and a day off spent my time in front of the PC. I used to think that working is something interesting and fun, just do the same thing each day and get the salary every month. But now ?? Yes it is interesting and fun but also boring sometime, hehehe…

May be this is what people say to be the phase of life. Do you reckon so guys??

Anyway, whatsoever we do we must try to enjoy it, don’t we??

Meredakan Kemarahan (Cooling Down)

Di buku rekor Guinness 2005, Percy Arrowsmith dan Florence tercatat

sebagai suami istri tertua di dunia. Mereka telah menikah selama 80

tahun. Percy berusia 105 tahun, sedangkan istrinya 100 tahun. Namun,

keduanya masih saling mencintai. Apa rahasianya? "Sederhana!" kata

mereka. "Kami tidak akan pergi tidur sebelum menyelesaikan konflik.

Tidak enak tidur membawa kemarahan. Jika bertengkar, kami berusaha

saling mengampuni sebelum larut malam, supaya hari itu bisa ditutup

dengan ciuman dan genggaman tangan."

Kemarahan bisa mampir mendadak; ketika kita dicurangi, dituduh

bersalah, atau saat melihat ketidakadilan. Mazmur 37 ditulis bagi

orang muda yang panas hatinya ketika melihat orang-orang jahat

sukses. Mereka berbuat curang (ayat 1), melakukan tipu daya, tetapi

hidup lebih berhasil ketimbang dirinya yang hidup lurus (ayat 7).

Kemarahan pun muncul. Jika dipendam, kemarahan ini akan berbuahkan

iri hati dan kepahitan. Satu kali ia bakal meledak dan bertindak main

hakim sendiri! Maka, pemazmur menasihatinya untuk berhenti marah

(ayat 8) dan menyerahkan masalahnya kepada Tuhan (ayat 5). Biarlah

Tuhan yang bertindak dan memunculkan keadilan (ayat 10,11). Kemarahan

tidak berguna. Jika disimpan, ia bagai sampah yang membusuki hati.

Apakah Anda sedang marah atau kerap marah? Datangnya marah tak bisa

dicegah, tetapi bisa diredakan. Ceritakan kekesalan Anda kepada

Tuhan, nantikan Dia bertindak, lalu padamkan amarah Anda sebelum

mentari terbenam. Jangan biarkan kemarahan mengotori hati, mematahkan

semangat, dan mengganggu waktu tidur Anda

Ibu Bijak, Anak Bahagia

Seorang filsuf Cina terkenal, Meng Zi, memiliki ibu yang sangat

bijak. Konon ketika Meng Zi masih kecil, mereka tinggal dekat

kuburan. Siang-malam Meng Zi meniru gerak-gerik dan perkataan

orang-orang yang melayat. Maka, ibu Meng Zi mengajak keluarganya

pindah ke dekat pasar. Kali ini Meng Zi menirukan kata-kata para

penjual daging. Si ibu merasa lingkungan pasar juga kurang baik bagi

masa depan Meng Zi. Akhirnya, mereka pindah ke dekat sekolah. Sejak

itu Meng Zi rajin menirukan murid-murid membaca buku. Setelah besar

Meng Zi berguru kepada seorang filsuf. Akhirnya, ia sendiri pun

menjadi filsuf besar di zamannya. Meng Zi berhasil karena ia memiliki

ibu yang sangat memperhatikan pendidikannya.

Alkitab mencatat jasa seorang ibu bernama Eunike. Ia adalah ibu dari

pemimpin muda gereja, Timotius. Eunike dan Lois (nenek Timotius)

adalah orang Yahudi yang taat mengajarkan firman Tuhan sejak Timotius

kecil (1 Timotius 1:5; 2 Timotius 3:15). Menurut NIV Life

Application, Timotius bertobat bukan karena khotbah seorang

penginjil, tetapi karena peran ibu dan neneknya yang mengajarkan

firman Tuhan sejak kecil. Ketika Timotius dipercaya memimpin jemaat,

Paulus memperingatkannya tentang dunia yang makin jahat (ayat 9-15).

Namun, Paulus juga menasihatinya agar selalu berpegang pada kebenaran

yang diajarkan ibunya sedari kecil (ayat 15). Dengan itu, Timotius

akan mampu untuk terus setia.

Dunia tidak bertambah baik. Namun, jika anak-anak sudah dididik sejak

kecil dalam Tuhan, kita tak perlu khawatir. Ajak mereka rajin membaca

Alkitab, berdoa, dan terutama tuntun mereka untuk menerima Kristus

sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka

Menunggu Waktu Istirahat - 1

Tik..tok..tik..tok..waktu kok lama sekali berjalan ya? Saya tidak tahu kenapa, dan mungkin anda juga tidak tahu. Waktu terasa sangat lama saat kita benar- benar menunggunya. Ini merupakan pertanyaan umum dan tidak berguna yang seringkali muncul dalam pikiran kita. Sudahkah ketemu jawabannya???

Menurut saya, hal ini terjadi karena pada saat kita menunggu orientasi kita hanya ada di kitaran perputaran waktu. Sebaliknya, kita seperti dikejar-kejar waktu karena orientasi kita terpaku pada sesuatu yang kita kerjakan. Membingungkan ya?? Ya,saya sendiri jdi agak bingung di poin ini. Mmmm....

Wah...jadi bingung, lanjutkan kapan-kapan saja ya.

Cheers..

Melayani Tuhan ( Serving God)

Suatu kali gereja kami mengundang seorang pendeta untuk menyampaikan

firman Tuhan dan bersaksi mengenai pelayanan yang telah ia lakukan

dalam dua puluh tahun terakhir. Saya sangat terkesan dengannya;

penampilannya sederhana. Ia berkhotbah tanpa jas dan dasi. Khotbahnya

pun sederhana, tetapi pesannya sangat jelas. Namun, yang lebih

membuat saya terkesan adalah hatinya. Ia memiliki hati untuk melayani

orang-orang yang terpinggirkan; seperti anak-anak jalanan, anak-anak

pedesaan, bahkan sampai kepada tahanan-tahanan. Dan, dari hatinya

muncul keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, karena

sesuai dengan perintah Allah.

Jika kita membandingkan keyakinan pendeta tersebut dengan ayat yang

kita baca hari ini, memang benar demikian adanya. Tuhan sebenarnya

memberikan sebuah tatanan pelayanan yang benar. Jika kita ingin

melayani Tuhan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler.

Kita dapat memulainya dari hal sederhana: "memberikan secangkir air

sejuk" bagi orang-orang yang terpinggirkan dan berkekurangan-"yang

kecil ini". Meski itu berarti juga berani keluar dari zona nyaman,

untuk melayani yang kurang terlayani.

Entah sudah berapa lama konsep melayani Tuhan yang kita miliki hanya

terbatas di dalam tembok gereja. Tentu apa yang kita lakukan di

gereja selama ini tidaklah salah, tetapi dengan mengingat apa yang

disampaikan Tuhan Yesus kepada kita, seharusnya kita juga memikirkan

hal-hal di luar tembok gereja, terutama untuk melayani kaum yang

Alkitab sebut sebagai "yang kecil". Sudah saatnya kita melakukan

kebenaran firman Tuhan ini --RY

LAYANI TUHAN SEPERTI YANG TUHAN MAU

Monday, June 29, 2009

The Legend of Roro Jonggrang (Legenda Roro Jonggrang)

Long time ago, there was a kingdom named Prambanan. All the people of Prambanan lived peacefully. But then, Prambanan kingdom was attacked and occupied by the Pengging kingdom. Prambanan then was ruled by Bandung Bondowoso of Pengging kingdom. He was a mean king. He also had great supernatural power. His soldiers were not only humans, but also genies.
The king of Prambanan had a beautiful daughter named Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso fell in love with her and wanted to marry her. “You’re very beautiful. Would you be my queen?” asked Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang was shocked. She didn’t like Bandung Bondowoso because he was a mean person. She wanted to refuse, but she afraid that Bandung Bondowoso would be angry and endangered the people of Prambanan. Then, she came up with a plan. “If you want to marry me, you have to build a thousand temples for me in just one night," said Roro Jonggrang. “What? That’s impossible!” said Bandung

The Legend of Kebo Iwa ( Legenda Kebo Iwa)

Once upon a time in Bali, lived a wealthy man and his wife. They have been married for a long time but did not have any children. They prayed to God to give them a child. They prayed and prayed. God finally answered their pray. The wife got pregnant and they had a baby boy. They were very happy. The baby was extraordinary. He was very much different from other babies. He ate and drank a lot. Day after day he ate more and more. His body was getting bigger and bigger. And by the time he was a teenager, his body was as big as a buffalo. That’s why people called him Kebo Iwa, it means uncle buffalo. Because of his eating habit, Kebo Iwa’s parents spent a lot of money to buy his food. They finally went bankrupt. They had no other choice but to ask the villagers to help them provide the food.