Showing posts with label Owner's Reflection. Show all posts
Showing posts with label Owner's Reflection. Show all posts

Monday, May 6, 2013

Believe;Shall This Be A Reason For Hatred & Disintegration?

It was Sunday, and I just woke up since I had my obligation and a call from God to be gratitude and congregate to worship HIM.Not because I have to, but rather because I need to. Going to the bathroom to take a shower, my mother told me that a relative passed away early that morning. A relative who live apart from our town.Therefore mother went to the funeral in the afternoon.

Wednesday, November 7, 2012

Between Compassionate and Commiserating

There are absurd and ambiguities in this world and believe that many would misunderstand and prefer to live under fake comforts. Like lust and love, two seemingly inseparable desires that some people just cannot easily conclude. Shane would be able to understand that there will always be lust inside love.
Though, love is not in all lusts.
Undergoing times, I seem to understand that I was indeed commiserating. Shame, for I was not (yet) able to explain how

Thursday, October 25, 2012

Build Me Up, Break Me Down


I suppose that some people don't know what the title is going to suggest. Well, I'm kind of poetic, right? Actually, this comes from Dream Theater (an American Progressive Rock band)'s song title from the album A Dramatic Turn Of Events. During this recent days, this song keeps playing in my random winamp playlist. Great song emerges by itself on the list, perhaps. First of all, let's check on the complete lyric of the song (I wrote it while I was listening, and took some from metrolyrics.com).

Thursday, August 2, 2012

What Doesn't Kill Me Makes Me Stronger

Despair, who has never felt the sort of thing? Despair can be caused by many kinds of things; life confusion, distress, love and some other causes you may know better. Me myself, I have also in this kind of situation. A few months ago, to be precised. In seek of future secret, jobless, and certain inner turbulence that troubled me most (unwritten). I'm always seen to be a strong person, yes I am. I manage despair not long, like I always do.
I was accepted in the new work-place a few

Tuesday, October 20, 2009

Belajar dan Dipusingkan Hal Sepele

Namanya Liu Ximei. Pekerjaannya sehari-hari melakukan tugas rumah
tangga, sesekali bekerja di sawah atau di lahan pertanian di Desa
Xinhu, Guangdong, Cina. Wanita ini juga mencuci pakaiannya sendiri
dan aktif melakukan kegiatan harian. Yang membuat Liu Ximei istimewa
adalah ia melakukan semua aktivitasnya itu dalam usianya yang telah
mencapai 102 tahun! Apa resepnya? Sangat sederhana: tidak minum
alkohol, menjaga kebersihan diri, dan yang terpenting, katanya, ia
tidak mau terlalu dipusingkan oleh keadaan sekitarnya.

Saturday, August 1, 2009

Anugerah dan Syukur (Blessings and Thankfulness)

Ada banyak acara bagi-bagi uang di televisi Indonesia. Bentuknya bisa berupa kuis, undian, bantuan, dan sebagainya. Semua penerima uang tersebut selalu menunjukkan kegembiraan. Tetapi ada sedikit perbedaan respons antara mereka yang mendapat uang yang berupa bantuan, dengan mereka yang mendapatkannya karena menang kuis. Biasanya, kelompok yang pertama menunjukkan rasa syukur yang meluap-luap kepada pembawa
acara. Hal ini lebih jarang terjadi di kelompok yang kedua.

Perbedaan ini disebabkan oleh karena cara pandang yang berbeda. Mereka yang mendapatkan uang dengan memenangkan suatu kuis, merasa layak mendapatkan uangnya. Sementara mereka yang menerima uang sebagai bantuan tanpa berbuat apa pun yang membuatnya pantas menerima, melihat uang tersebut sebagai anugerah.

Mempersiapkan Kematian ( Be ready for your demise)

Bu Mimin, usia 81 tahun, meninggal dunia, menyusul Pak Wijian, suaminya, yang berpulang empat tahun lalu. Anak-anak dan menantunya bersitegang. Gara-gara sebagian ingin jenazah almarhumah dikremasi, sebagian lagi berkeras harus dikubur. Mereka memang berasal dari
gereja yang berbeda-beda. Masing-masing punya pandangan dan alasannya. Sedang Bu Mimin sendiri semasa masih hidup tidak meninggalkan pesan apa-apa. Akibatnya relasi di dalam keluarga pun menjadi rusak.

Untuk menghindarkan hal-hal seperti itu, maka ada baiknya kita mempersiapkan apa-apa yang perlu diperhatikan jika saatnya kematian tiba. Jangan sampai kita mati dengan meninggalkan masalah buat orang-orang yang ditinggalkan. Menyedihkan sekali. Kita mungkin sudah tenang-tenang "di alam sana", tetapi keluarga kita malah saling bertengkar. Lagipula kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Cepat atau lambat. Entah karena usia lanjut, sakit, atau penyebab lainnya. Jadi, perlulah kita mempersiapkan diri sebelum kematian datang. MEMPERSIAPKAN KEMATIAN

Monday, July 27, 2009

LIBUR TELAH TIBA

Liburan adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh siapa pun. Bukan hanya oleh anak sekolah, melainkan juga para pekerja. Karena liburan berarti kita dapat istirahat sejenak dari segala rutinitas kita dan mencari kesegaran (refreshing) yang baru. Memang penat rasanya jika kita terus-menerus bekerja tanpa henti. Tubuh kita perlu istrirahat sejenak. Liburan memang penting, tetapi bagaimana mengisi liburan tersebut jauh lebih penting. Daud sedang "berlibur". Pada saat para prajuritnya maju berperang di medan laga, Daud "cuti" sejenak. Bersantai-santai di tempat tidur, berjalan-jalan menikmati kerajaannya. Namun, ups ... ada pemandangan yang "indah" tepat di hadapan matanya. Seorang perempuan sedang mandi. Entah apa yang terlintas dalam pikiran Daud pada saat itu, tetapi mungkin saja ia berpikir "boleh dong saya menikmati hari libur saya bersama wanita itu". Dan, Daud mengisi "liburan"-nya dengan melakukan hal jahat di mata Tuhan. Liburan memang penting karena kita akan mendapat kesegaran yang baru
melaluinya. Namun, tidak berarti kita bisa sembarangan menggunakan waktu liburan tersebut. Kekudusan tetap harus dijaga selama kitab berlibur. Selain itu, berlibur bukan berarti relasi kita dengan Tuhan juga ikut "berlibur". Ingatlah sebuah lagu sekolah minggu yang mengatakan "Mata Tuhan melihat apa yang kau perbuat, baik yang baik maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat, (ingat!)

Tuhan melihat". Bawalah lagu ini dalam liburan Anda sebagai pengingat bahwa kita harus mengisi waktu liburan kita dengan hati yang takut akan Tuhan.

Thursday, July 16, 2009

Memeriksakan Diri

Dalam sebuah seminar, para peserta diberi lembar "evaluasi
narasumber". Dengan antusias, peserta mengungkap hal-hal positif
maupun negatif yang perlu ditingkatkan sang narasumber. Evaluasi
memang sangat bermanfaat jika dipandang sebagai "cermin" untuk
meningkatkan kualitas kinerja seseorang. Namun, pernahkah kita
mengevaluasi diri sendiri, untuk melihat berapa banyak kebenaran yang
sudah atau belum kita lakukan? Atau, kita lebih suka mengevaluasi
orang lain?

Yohanes Pembaptis dipakai Tuhan untuk menyerukan "... hasilkanlah
buah yang sesuai dengan pertobatan" (ayat 8). Sangat menarik bahwa
kalimat ini ia katakan di depan orang-orang Farisi dan Saduki yang
sudah mengenal hukum Taurat. Mereka datang kepada Yohanes untuk
dibaptis (ayat 7). Di situlah Yohanes mengingatkan mereka agar
berbuah, sesuai pertobatan mereka.

Seseorang yang mengaku telah bertobat, tidak boleh pasif atau tidak
berbuah. Justru pertobatan itu harus mendorongnya untuk senantiasa
menghasilkan buah pertobatan, yaitu perkataan dan perbuatan yang
mewartakan kasih Tuhan. Kita diminta senantiasa berbuah, apa pun
keadaan kita. Respons yang benar bukanlah menawar atau mengajukan
beribu alasan untuk tidak berbuah, melainkan taat untuk berbuah. Dan
di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat Dia jadikan berkat bagi
orang lain.

Maka, satu hal yang perlu kita lakukan: belajar berani mengevaluasi
diri. Tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah saya berbuah? Apakah yang
saya berikan hari ini adalah perkataan dan perbuatan yang meninggikan
nama Tuhan, atau diri sendiri? Kiranya kita didorong untuk melakukan
yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama

Setia Dalam Kekosongan

"Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang." Inilah
sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang
untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan,
tetapi perlu dibuktikan.

Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa
setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana
jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan
setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?

Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru
datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi,
boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan
berada-Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi
ada pernyataan bahwa Naomi "pergi dengan tangan penuh" (1:21). Akan
tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi
jatuh miskin "tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku". Di
sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan
Naomi dalam "kekosongannya".

Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan
tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang
yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia
karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu,
jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau
suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar
kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita
setia.

Saturday, July 4, 2009

Cerita Tentang Seorang Dermawan Rahasia


        Beberapa saat lalu saya menemukan sebuah cerita yang menurut saya sangat menarik dan menginspirasi.Berikut cerita tersebut, silakan dinikmati dan berikan komentar anda.
=========================================================================
oleh: Woody McKay Jr,

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan uang itu.
Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita
yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai

Wednesday, July 1, 2009

Meredakan Kemarahan (Cooling Down)

Di buku rekor Guinness 2005, Percy Arrowsmith dan Florence tercatat

sebagai suami istri tertua di dunia. Mereka telah menikah selama 80

tahun. Percy berusia 105 tahun, sedangkan istrinya 100 tahun. Namun,

keduanya masih saling mencintai. Apa rahasianya? "Sederhana!" kata

mereka. "Kami tidak akan pergi tidur sebelum menyelesaikan konflik.

Tidak enak tidur membawa kemarahan. Jika bertengkar, kami berusaha

saling mengampuni sebelum larut malam, supaya hari itu bisa ditutup

dengan ciuman dan genggaman tangan."

Kemarahan bisa mampir mendadak; ketika kita dicurangi, dituduh

bersalah, atau saat melihat ketidakadilan. Mazmur 37 ditulis bagi

orang muda yang panas hatinya ketika melihat orang-orang jahat

sukses. Mereka berbuat curang (ayat 1), melakukan tipu daya, tetapi

hidup lebih berhasil ketimbang dirinya yang hidup lurus (ayat 7).

Kemarahan pun muncul. Jika dipendam, kemarahan ini akan berbuahkan

iri hati dan kepahitan. Satu kali ia bakal meledak dan bertindak main

hakim sendiri! Maka, pemazmur menasihatinya untuk berhenti marah

(ayat 8) dan menyerahkan masalahnya kepada Tuhan (ayat 5). Biarlah

Tuhan yang bertindak dan memunculkan keadilan (ayat 10,11). Kemarahan

tidak berguna. Jika disimpan, ia bagai sampah yang membusuki hati.

Apakah Anda sedang marah atau kerap marah? Datangnya marah tak bisa

dicegah, tetapi bisa diredakan. Ceritakan kekesalan Anda kepada

Tuhan, nantikan Dia bertindak, lalu padamkan amarah Anda sebelum

mentari terbenam. Jangan biarkan kemarahan mengotori hati, mematahkan

semangat, dan mengganggu waktu tidur Anda

Ibu Bijak, Anak Bahagia

Seorang filsuf Cina terkenal, Meng Zi, memiliki ibu yang sangat

bijak. Konon ketika Meng Zi masih kecil, mereka tinggal dekat

kuburan. Siang-malam Meng Zi meniru gerak-gerik dan perkataan

orang-orang yang melayat. Maka, ibu Meng Zi mengajak keluarganya

pindah ke dekat pasar. Kali ini Meng Zi menirukan kata-kata para

penjual daging. Si ibu merasa lingkungan pasar juga kurang baik bagi

masa depan Meng Zi. Akhirnya, mereka pindah ke dekat sekolah. Sejak

itu Meng Zi rajin menirukan murid-murid membaca buku. Setelah besar

Meng Zi berguru kepada seorang filsuf. Akhirnya, ia sendiri pun

menjadi filsuf besar di zamannya. Meng Zi berhasil karena ia memiliki

ibu yang sangat memperhatikan pendidikannya.

Alkitab mencatat jasa seorang ibu bernama Eunike. Ia adalah ibu dari

pemimpin muda gereja, Timotius. Eunike dan Lois (nenek Timotius)

adalah orang Yahudi yang taat mengajarkan firman Tuhan sejak Timotius

kecil (1 Timotius 1:5; 2 Timotius 3:15). Menurut NIV Life

Application, Timotius bertobat bukan karena khotbah seorang

penginjil, tetapi karena peran ibu dan neneknya yang mengajarkan

firman Tuhan sejak kecil. Ketika Timotius dipercaya memimpin jemaat,

Paulus memperingatkannya tentang dunia yang makin jahat (ayat 9-15).

Namun, Paulus juga menasihatinya agar selalu berpegang pada kebenaran

yang diajarkan ibunya sedari kecil (ayat 15). Dengan itu, Timotius

akan mampu untuk terus setia.

Dunia tidak bertambah baik. Namun, jika anak-anak sudah dididik sejak

kecil dalam Tuhan, kita tak perlu khawatir. Ajak mereka rajin membaca

Alkitab, berdoa, dan terutama tuntun mereka untuk menerima Kristus

sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka

Melayani Tuhan ( Serving God)

Suatu kali gereja kami mengundang seorang pendeta untuk menyampaikan

firman Tuhan dan bersaksi mengenai pelayanan yang telah ia lakukan

dalam dua puluh tahun terakhir. Saya sangat terkesan dengannya;

penampilannya sederhana. Ia berkhotbah tanpa jas dan dasi. Khotbahnya

pun sederhana, tetapi pesannya sangat jelas. Namun, yang lebih

membuat saya terkesan adalah hatinya. Ia memiliki hati untuk melayani

orang-orang yang terpinggirkan; seperti anak-anak jalanan, anak-anak

pedesaan, bahkan sampai kepada tahanan-tahanan. Dan, dari hatinya

muncul keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, karena

sesuai dengan perintah Allah.

Jika kita membandingkan keyakinan pendeta tersebut dengan ayat yang

kita baca hari ini, memang benar demikian adanya. Tuhan sebenarnya

memberikan sebuah tatanan pelayanan yang benar. Jika kita ingin

melayani Tuhan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler.

Kita dapat memulainya dari hal sederhana: "memberikan secangkir air

sejuk" bagi orang-orang yang terpinggirkan dan berkekurangan-"yang

kecil ini". Meski itu berarti juga berani keluar dari zona nyaman,

untuk melayani yang kurang terlayani.

Entah sudah berapa lama konsep melayani Tuhan yang kita miliki hanya

terbatas di dalam tembok gereja. Tentu apa yang kita lakukan di

gereja selama ini tidaklah salah, tetapi dengan mengingat apa yang

disampaikan Tuhan Yesus kepada kita, seharusnya kita juga memikirkan

hal-hal di luar tembok gereja, terutama untuk melayani kaum yang

Alkitab sebut sebagai "yang kecil". Sudah saatnya kita melakukan

kebenaran firman Tuhan ini --RY

LAYANI TUHAN SEPERTI YANG TUHAN MAU